Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu

Atas wujud lain sebuah keindahan, muncul dengan nama Kebahagiaan..
Tampilkan postingan dengan label dakwah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label dakwah. Tampilkan semua postingan

Resume dan Analisis Fiqih DAKWAH

Fiqih Dakwah
Jum'ah Amin Abdul Aziz

Dakwah adalah sebuah aktivitas yang terutama bersentuhan dengan manusia dan kemanusiaan. Seringkali ia menyajikan kepada pelakunya serangkaian permasalahan yang pelik dan rumit, serumit kemanusiaan itu sendiri. Oleh karenanya dibutuhkan dai yang berwawasan luas dan memiliki pemahaman yang dalam akan berbagai perangkat yang dibutuhkan; perangkat lunak maupun perangkat kerasnya.

Dakwah berorientasi pembangunan dan perbaikan masyarakat. Namun seringkali karena kedangkalan wawasan dainya- ia tidak berhasil memberikan kontribusi apapun, tidak juga perwujudan maslahat yang riil. Bahkan terkadang keberadaannya justru memperkeruh suasana dan merusak tatanan masyarakat. Dalam kondisi seperti itu kita jumpai orang menolak dakwah bukan karena benar-benar ingkar, tapi semata karena buruknya akhlak sang dai, atau dangkalnya pengetahuan dia tentang kaidah-kaidah dakwah.

Defini Dakwah di tinjau dari bahasa dan istilah..
An nida artinya memanggil..
Ad-du’a ila syai’I artinya menyeru..
Ad-dakwah ila qodhiyah artinya menegaskan atau membelanya..
Berdoa suatu usaha berupa perkataan atau perbuatan untuk menarik manusia ke suatu aliran atau agama tertentu memohon dan meminta.

Dakwah yang kita maksudkan disini..
Dakwah yang kita inginkan dan yang wajib bagi kaum muslimin untuk melaksanakannya adalah dakwah yang bertujuan untuk beorientasi pada:
1.  Membangun masyarakat islam, sebagaimana para rasul Allah, yang memulai dakwahnya dikalangan masyarakat jahiliyah.Mereka mengajak manusia untuk memeluk agama Allah, menyampaikan wahyu-Nya kepada kaumnya, dan memperingatkan mereka dari syirik.
2. Dakwah dengan melakukan perbaikan pada masyarakat islam yang terkena musibah. Seperti penyimpangan dan berbagai kemungkaran, serta pengabaian masyarakat tersebut terhadap segala kewajiban.
3. Memelihara kelangsungan dakwah dikalangan masyarakat yang telah berpegang pada kebenaran, melalui pengajaran secara terus-menurus, pengingatan, penyucian jiwa dan pendidikan.

Dakwah adalah kewajiban secara syar'i..
dakwah adalah kewajiban yang syar'i, dibenarkan dan dibuktikan dengan adanya firman-firman Allah..

Firman Allah “dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar;merekalah orang-orang yang beruntung” (Ali Imran:104)

Firman Allah “ sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk setelah kami menerangkanya kepada manusia dalam alkitab,maka ia di laknati Allah dan di laknati oleh semua makhluk yang dapat melaknati….
(Albaqoroh 159-160)

Firman Allah “mengapa orang-orang alim dan pendeta-pendeta mereka tidak melarang mereka dari mengucapkan perkataan bohong dan memakan yang haram?sesungguhnya amat buruklah apa yang telah mereka kerjakan itu “ (Al-Maidah: 63)
Firman Allah “hai orang-orang yang beriman,jagalah dirimu; tiadalah orang yang sesat itu akan memberi madharat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk.hanya kepada Allah kamu kembali semuanya,maka dia akan menerangkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan “(Al-Maidah; 105)

Firman Allah “ demi masa.sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian,kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal sholih dan nasehat menasehati supaya menaati kebenaran dan nasehat-menasehati supaya menetapi kesabaran

Keutamaan Dakwah..
Keutamaan dalam dakwah dalam firman Allah :
firman Allah “ siapakah yang lebih baik daripada orang yang menyeru kepada Allah,mengerjakan amal sholeh dan berkata, ‘sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri,” (fushilat:33)

Hadis “ barang siapa menunjukan kepada kebaikan,ia berhak memperoleh pahala sebagaimana pahala orang pahala sebagaimana pahala orang yang melakukannya (HR.Muslim)

Karakter Dakwah kita..
1. Rabbaniyah,artinya bersumber dari wahyu Allah
2. Wasathiyah,artinya tengah-tengah atau tawazun (seimbang)
3. Ijabiyah,artinya positif dalam memandang alam,manusia,dan kehidupan
4. Waqi’iyah,artinya realistis dalam memperlakukan individu dan masyarakat
5. Akhlakiyah,artinya sarat dengan nilai kebenaran,baik dalam sarana maupun tujuan
6. Alamiyah,bersifat mendunia
7. Syuriyah,berpijak di atas prinsip musyawarah dalam menemukan segala sesuatunya
8. Syumuliah,artinya utuh dan menyeluruh dalam manhajnya
9. Jihadiyah,artinya terus memerangi siapa saja yang berani menghalang-halangi islam
10. Salafiyah,artinya menjaga orisinilitas dalam pemahaman dan akidah

Adapun metode- metode dakwah yang harus dilakukan oleh seorang Da'i adalah sebagai berikut :
1. Penyampaian yang baik
2. Keindahan uslub
3. Targhib (member rangsangan) dalam kebenaran
4. Mempergunakan kebijaksanaan dan nasihat yang baik
5. Bantahan dengan cara yang lebih baik
6. Mempertimbangkan situasi dan kondisi
7. Penggunaan sarana publikasi dan informasi yang paling modern

"seorang da'i harus paham dan mengetahui tentang apa yang ia lakukan dan ia kerjakan untuk dakwah ini."

Faktor-Faktor Keberhasilan Dakwah..
Dakwah kita memiliki nilai-nilai yang luhur dan pemahamannya yang asli serta risalahnya yang abadi. Dakwah membutuhkan seorang dai yang sanggup memikul amanah dan berbagai masalah yang harus direalisir, agar dakwah ini sukses serta sampai pada tujuannya yang mulia.
Faktor-faktor pendukung keberhasilan dakwah adalah sebagai berikut :
1. Pemahaman yang mendalam
2. Keimanan yang kuat
3. Kecintaan yang kukuh
4. kesadaran yang sempurna
5. kerja yang kotinue

Pilar-Pilar Dakwah Kami..
Banyak orang-orang sekuler yang menertawakan kita ketika mereka anggapan mereka tentang dakwah ini bahwa pilar-pilar kedaulatan kita ini tergambar dalam slogan “ Satu tanah air, Satu nusa, Satu bangsa,dan satu kepentingan yang sama”.
Pernah datang suatu masa ketika seorang muslim berjalan dari Andalusia ke afrika utara, mesir, syam, dan irak, bahkan kenegara jauh seperti cina dan india, tanpa ada perasaan takut dan terasing. Dimana saja ia berada pasti ada yang menyebut asma Allah.

Sifat-Sifat Da'i..
Sifat - sifat yang dimiliki seorang da’i adalah ia dapat mendakwahi keluarga dekatnya, dapat pula menasehati orang-orang yang dikenal dari umat islam. Ia menjadikan Rasulullah sebagai teladan, bijaksana dalam dakwahnya, ihsan dalam menasehatinya, dan bermujahadah dengan cara yang lebih baik, maka dakwah bil haq itu lebih baik dan berpengaruh daripada dakwah bil maqal.

Wahai Da’i, bersikaplah lemah lembut kepada semua orang, Sesungguhnya termasuk keburukan seorang da’i adalah apabila ia memberatkan manusia, seakan dia melihat mereka dengan pengelihatan yang hina, atau dengan pandangan yang sombong, dan merasa paling tinggi.

Wahai Da'i bersifatlah penyantun, Sesungguhnya sifat penyantunnya itu merupakan salah satu tanda dari tanda-tanda kerasulan Rasulullah, sifat penyantunnya mendahului ketidaktahuannya, dan ketidaktahuannya yang sangat itu tidak menambahinya kecuali semakin bersikap penyantunnya.

Sikap Da'i dalam Masyarakat..
Da'i tidak boleh terhina oleh kemauan mereka (Masyarakat), hanya karena ingin menarik mereka kedalam dakwah.terkadang hanya karena tujuan saja, seorang dai tidak hanya mengubah sebagian norma dan tradisi islam saja, bahkan sampai mengubah prinsip akidah bahkan system islam.

Syarat - Syarat melawan Kemungkaran..
1. Pastikan yang kita hadapi adalah benar-benar kemungkaran
2. Hendaknya kemungkaran yang tampak bukan suatu kesalahan yang dicari-cari
3. Hendaknya kemungkaran itu diketahui tanpa ijtihad

Allahualam..
di Bumi Allah yang penuh Rahmat..

ALMasyuq

Membina Angkatan Mujahid


Buku Membina Angkatan Mujahid  ini berisi tentang risalah talim dan mengenai kehidupan Hasan Al Banna, dalam bab Awal diperkenalkan sosok Hasan Al Banna serta pergerakan jamaah Ikhwanul Muslimin (IM), Bab berikutnya memahami tujuan IM, yakni tujuan akhirnya  adalah Tegaknya Daulah Khilafiah Islamiyah, serta dunia seluruhnya hanya tunduk kepada ALLAH SWT, kemudian dijelaskan sarana-sarana untuk mencapai tujuan tersebut. Bab selanjutnya yang paling penting, yakni Risalah Ta’alim dan sendi-sendi pembentukan pribadi Islam, yang terdiri dari dua bagian, bagian pertama rukun bai’at, kemudian diiringi dengan kewajiban-kewajiban seorang Mujahid.
Tentang Ikhwanul Muslimin (IM), melalui penjelasan Ustadz Hasan Al-Banna, didapati dua fenomena: Pertama, Ikhwan sebagai sebuah jamaah yang memusatkan perhatian pada pelayanan umum. Ia ikut bersama-sama dengan semua jamaah Islam yang ada untuk berkhidmat kepada masyarakat umum dengan berbagai sarana; Kedua, Ikhwan sebagai sebuah gerakan pembaharuan. Hasan Al-Banna telah memfokuskan perhatiannya pada fenomena yang kedua ini, karena aspek inilah yang terpenting. Diantara fenomena pembaharuan dalam gerakan ini ialah Ikhwan memahami betul berbagai kebutuhan amal Islami dewasa ini, yang selama ini diabaikan oleh umat Islam sendiri. Islam memerlukan gerakan yang menyeluruh, yang menjadikan seorang muslim biasa merasakan bahwa dirinya muslim, merasakan bahwa kita hidup bersama-sama, juga merasakan keterikatan secara umum dengan Islam dan kaum muslimin, serta merasakan pula ikatan khusus dengannya.
Tanggung jawab  pertama Jamaah atau  pimpinanya adalah mengubah kondisi pribadi muslim dan selanjutnya kaum muslimin. Orang muslim kini lemah rasa keIslamannya dan lemah pula emosi penisbatan dirinya kepada Islam, selain itu juga lemah perasaannya bahwa ia adalah bagian dari umat Islam. Karena itu, pekerjaan pertama kita adalah membangkitkan perasaan muslim tentang eksistensi keislamannya dan eksistensi kejamaahannya.
Dalam Risalah Ta’alimnya, Hasan Al Banna menyatakan,”Adapun tingkatan amal
yang dituntut dari seorang akh yang tulus adalah:
1.      Perbaikan dirinya sendiri, sehingga menjadi orang yang kuat fisiknya, kokoh  ahlaknya, luas wawasannya, mampu mencari penghidupan, selamat akidahnya, benar ibadahnya, pejuang bagi dirinya sendiri, penuh perhatian akan waktunya, rapi urusannya, bermanfaat bagi orang lain.
2.      Pembetukqan Keluarga Muslim, yaitu dengan mengkondisikan keluarga, agar menghargai fikrahnya, menjaga etika Islam dalam setiap aktifitas kehidupan rumah tangganya.
3.                            Bimbingan masyarakat, yakni menyebarkan dakwah, memerangi perilaku yang kotor dan mungkar, mendukung perilaku utama, amar ma’ruf, bersegera mengerjakan kebaikan.
4.      Pembebasan Tanah Air dari setiap penguasa asing – Non Islam – baik secara politik, ekonomi maupun moral. Memperbaiki keadaan pemerintah, sehingga menjadi pemerintah Islam yang baik, dengan begitu ia dapat memainkan perannya sebagai pelayan umat, dan pekerja yang bekerja demi kemaslahatan umat.
5.      Usaha mempersiapkan seluruh asset negeri di dunia ini untuk kemaslahatan Islam; dengan cara membebaskan seluruh negeri, membangun kejayaannya, menegakkan peradabannya,
6.      Penegakan kepemimpinan dunia dengan penyebaran dakwah Islam di negeri.
Dalam Risalah Ta’alimnya, Ustadz Hasan Al-Banna mengatakan,”Tahapan
dakwah ada tiga macam:
1.     - TA’RIF
Dakwah dilakukan dengan menyebarkan fikrah Islam di tengah masyarakat. Adapun system dakwah untuk tahapan ini adalah system kelembagaan.
2.     -  TAKWIN
Dakwah ditegakkan dengan melakukan seleksi terhadap anasir positif untuk memikul beban jihad dan untuk menghimpun berbagai bagian yang ada.
3.     -  TANFIDZ
Dakwah dalam tahapan ini adalah jihad, tanpa kenal sikap plin-plan, kerja terus menerus untuk menggapai tujuan akhir, dan kesiapan menanggung cobaan dan ujian yang tidak mungkin bersabar atasnya, kecuali orang-orang yang tulus.

Dalam Risalah Ta’alimnya, Ustadz Hasan Al-Banna menjelaskan tentang batasan-batasan bai’at yang dibutuhkan dewasa ini, adalah:
1.      1. Bai’at untuk memahami Islam secara benar.
2.      2. Bai’at untuk berikhlas.
3.      3. Bai’at untuk beraktifitas,
4.      4. Bai’at untuk melakukan jihad,
5.      5. Bai’at untuk berkorban dengan segala yang dimiliki
6.      6. Bai’at untuk taat sesuai dengan tingkat kemampuannya.
7.      7. Bai’at untuk tegar menghadapi segala kondisi di setiap waktu.
8.      8. Bai’at untuk memberikan loyalitas total bagi dakwah
9.      9. Bai’at untuk berukhuwah
10.  10. Bai’at untuk tsiqah

KEWAJIBAN-KEWAJIBAN SEORANG MUJAHID

Ustadz Hasan Al-Banna berkata,”Imammu kepada bai’at ini mengharuskanmu menunaikan kewajiban-kewajiban berikut, sehingga engkau menjadi batubata yang kuat bagi bangunan. Adapun KEWAJIBAN-KEWAJIBAN SEORANG MUJAHID sebagai berikut:
1.      - Hendaklah engkau memiliki wirid harian dari Kitabullah tidak kurang dari  satu juz.
2.      Hendaklah engkau membaca Al-Qur’an dengan baik, memeprhatikannya dengan seksama, dan merenungkan artinya.
3.      - Hendaklah engkau mengkaji Sirah Nabi dan sejarah para generasi salaf sesuai   dengan waktu yang tersedia.
4.      melakukan general check up secara berkala
5.      menjauhi sikap berlebihan dalam mengkonsumsi kopi, teh  dan  minuman perangsang
6.     - Hendaklah engkau perhatikan urusan kebersihan dalam segala hal menyangkut tempat tinggal, pakaian,  makanan, badan, dan tempat kerja, karena agama ini dibangun di atas dasar kebersihan.
7.      - Hendaklah engkau jujur dalam berkata dan jangan sekali-kali berdusta.
8.      - Hendaklah engkau menepati janji, janganlah mengingkarinya, bagaimanapun kondisi yang engkau hadapi.
9.      - Hendaklah engkau menjadi seorang yang pemberani dan tahan uji;
10  - Hendaklah engkau senantiasa bersikap tenang dan terkesan serius. Namun janganlah keseriusan itu menghalangimu dari canda yang benar, senyum dan tawa.
11  - Hendaklah engkau memiliki rasa malu yang kuat, berperasaan yang sensitive, dan peka oleh kebaikan dan keburukan, yakni munculnya rasa bahagia untuk yang pertama dan rasa yang tersiksa untuk yang kedua.
12.  Hendaklah engkau bersikap adil dan benar dalam memutuskan suatu perkara pada setiap situasi Hendaklah engkau menjadi pekerja keras dan terlatih dalam aktifitas sosial.
13.  Hendaklah engkau berhati kasih, dermawan, toleran, pemaaf, lemah lembut kepada manusia maupun binatang, berperilaku baik dalam berhubungan  dengan semua orang, menjaga etika-etika sosial Islam.
14.  Hendaklah engkau pandai membaca dan menulis, memperbanyak muthala’ah terhadap risalah Ikhwan, Koran, majalah, dan tulisan lainnya.
15.  Hendaklah engkau memiliki proyek usaha ekonomi, Janganlah engkau terlalu berharap untuk menjadi pegawai negeri namun jangan pula engkau tolak jika diberi peluang untuk itu. Janganlah engkau melepaskannya kecuali jika benar-benar bertentangan dengan tugas-tugas dakwah..
16.  Hendaklah engkau perhatikan penunaian tugas-tugasmu (bagaimana  kecermatan dan kualitasnya), jangan menipu, dan tepatilah kesepakatan..
17.  Hendaklah engkau penuhi hakmu dengan baik, penuhi hak-hak orang lain dengan sempurna, tanpa dikurangi dan dilebihkan, janganlah menunda-nunda  pekerjaan.
18.  Hendaklah engkau menjauhkan diri dari judi dengan segala macamnya, apapun maksud dibaliknya. Hendaklah engkau juga menjauhi mata pencaharian yang haram, betapapun keuntungan besar yang ada di baliknya.
19.  Hendaklah engkau menjauhkan diri dari riba dalam setiap aktivitasmu dan suscikanlah ia sama sekali dari riba.
20.  Hendaklah engkau memelihara kekayaan umat Islam secara umum dengan mendorong berkembangnya pabrik-pabrik dan proyek-proyek ekonomi Islam.
21.  Hendaklah engkau memiliki kontribusi financial dalam dakwah, engkau tunaikan kewajiban zakatmu, dan jadikan sebagian dari hartamu itu untuk orang yang meminta dan orang yang kekurangan, betapapun kecil penghasilanmu.
22.  Hendaklah engkau menyimpan sebagian dari penghasilanmu untuk persediaan masa-masa sulit, betapapun sedikit, dan jangan sekali-kali menyusahkan dirimu untuk mengejar kesempurnaan.
23.  Hendaklah engkau bekerja – semampu yang engkau lakukan – untuk menghidupkan tradisi Islam dan mematikan tradisi asing dalam setiap aspek kehidupanmu, misalnya ucapan salam, bahasa, sejarah, pakaian, perabot rumah tangga, cara kerja dan istirahat, cara makan dan minum, cara datang dan pergi, serta gaya melampiaskan rasa suka dan duka. Hendaklah engkau menjaga sunnah dalam setiap aktifitas tersebut.
24.  Hendaklah engkau memboikot peradilan setempat atau seluruh peradilan yang tidak Islami, demikian juga gelanggang-gelanggang, penerbitan-penerbitan,  organisasi-organisasi, sekolah-sekolah dan segenap institusi yang tidak mendukung fikrahmu secara total.
25.  Hendaklah engkau senantiasa merasa diawasi oleh Allah, mengingat akhirat dan bersiap-siap untuk menjemputnya, mengambil jalan pintas untuk menuju ridha Allah dengan tekad yang kuat, serta mendekatkan diri kepada Allah SWT, puasa tiga hari – minimal – setiap bulan, mempeerbanyak dzikir (hati dan lisan), dan berusaha mengamalkan doa yang diajarkan pada setiap kesempatan.
26.  Hendaklah engkau bersuci dengan baik dan usahakan agar senantiasa dalam  keadaan berwudhu (suci) di sebagaian besar waktumu.
27.  Hendaklah engkau melakukan shalat dengan baik dan senantiasa tepat waktu dalam menunaikannya. Usahakan untuk senantiasa berjamaah di masjid jika itu mungkin dilakukan.
28.  Hendaklah engkau berpuasa Ramadhan dan berhaji dengan baik, jika engkau mampu melakukannya. Kerjakanlah sekarang juga jika engaku telah mampu.
29.  Hendaklah engkau senantaiasa menyertai dirimu dengan niat jihad dan cinta mati syahid. Bresiaplah untuk itu kapan saja kesempatan untuk itu tiba.
30.  Hendaklah engkau senantiasa memperbaharui shalat dan istighfarmu. Berhatihatilah terhadap dosa kecil, aspalagi dosa besar. Sediakanlah – untuk dirimu – beberapa saat sebelum tidur untuk menginstrospeksi diri terhadap apa-apa  yaNg telah engkau lakukan, yang baik maupun yang buruk. Perhatikan waktumu, karena waktu adalah kehidupan itu sendiri. Janganlah engkau pergunakan ia – sedikit pun – tanpa guna, dan janganlah engkau ceroboh terhadap hal-hal yang subhat, agar tidak jatuh ke dalam kubangan yang haram.
31.  Hendaklah engkau berjuang meningkatkan kemampuanmu dengan sungguhsungguh, agar engkau dapat menerima tongkat kepemimipinan. Hendaklah engkau menundukkan pandanganmu, menekan emosimu, dan memotong habis selera-selera rendah dari jiwamu. Bawalah ia hanya untuk menggapai yang halal dan baik, serta hijabilah ia dari haram dalam keadaan bagaimanapun.
32.  Hendaklah engkau menjauh dari khamer dan seluruh makanan atau minuman yang memabukkan sejauh-jauhnnya.
33.  Hendaklah engkau menjauh dari pergaulan dengan orang jahat dan persahabatan dengan orang yang rusak, serta jauhilah tempat-tempat maksiat.
34.  Hendaklah engkau perangi tempat-tempat iseng, jangan sekali-kali mendekatinya, serta jauhilah gaya hidup mewah dan bersantai-santai.
35.  Hendaklah engkau mengetahui anggota katibahmu satu persatu dengan pengetahuan yang lengkap, dan kenalkanlah dirimu kepada mereka dengan selengkap-lengkapnya. Tunaikanlah hak-hak ukhuwah mereka dengan seutuhnya; hak kasih sayang, penghargaan, pertolongan dan itsar. Hendaklah engkau senantiasa hadir di majelis mereka, tidak absent kecuali karena udzur darurat, dan pegang teguhlah sikap itsar dalam pergaulanmu dengan mereka.
36.  Hendaklah engkau hindari hubungan dengan organisasi atau jamaah apapun, sekiranya hubungan itu tidak membawa maslahat bagi fikrahmu, terutama jika diperintahkan untuk itu.
37.  Hendaklah engkau menyebarkan dakwahmu di manapun dan memberi informasi kepada pemimpin tentang segala kondisi yang melingkupimu.
38.  Janganlah engkau berbuat sesuatu yang berdampak strategis kecuali dengan seizinnya.
39.  Hendaklah engkau senantiasa mejalin hubungan, baik ruhani maupun ‘amali, dengan Jamaah.

Tegar di Jalan Dakwah

Buku Tegar di Jalan Dakwah ini membahas empat hal besar yang masing-masing dijelaskan dalam bab tersendiri: problematika internal aktivis dakwah, problematika eksternal dakwah, daya tahan di medan dakwah, dan yang tegar di jalan dakwah. Meskipun judulnya problematika, bab 1 dan bab 2 juga mencantumkan solusi pada setiap problematika yang muncul. Solusi pada bab 1 lebih detail dan bersifat aplikatif karena menyangkut permasalahan internal kader, sementara solusi pada bab 2 lebih bersifat global terkait langkah apa yang perlu diambil oleh jamaah dakwah. Bab 3 berisi langkah-langkah sistematis “membangun” dan “menjaga” daya tahan di medan dakwah. Sedangkan bab 4 banyak berisi contoh-contoh dai atau jamaah dakwah yang tegar menghadapi beragam mihnah.

Problematika Internal Aktivis Dakwah

Pembahasan problematika internal lebih didahulukan dari pada pembahasan problematika eksternal karena problem terberat bagi semua jamaah dakwah adalah kendala internal. Ketika problematika internal sudah diselesaikan/dikelola dengan baik, maka amanah dakwah lebih mudah ditunaikan dan problematika eksternal lebih mudah diselesaikan.

Problematika internal yang sering dijumpai dalam jamaah dakwah adalah gejolak kejiwaan, ketidakseimbangan aktivitas, latar belakang dan masa lalu, penyesuaian diri, dan friksi internal.

Gejolak kejiwaan sebenarnya merupakan persoalan yang dimiliki oleh semua manusia biasa. Dan yang perlu disadari adalah para aktivis dakwah juga manusia biasa. Gejolak ini tidak bisa dimatikan sama sekali, tetapi perlu dikelola dengan baik agar tidak merugikan dakwah dan aktivis dakwah.

Di antara gejolak kejiwaan itu adalah: Pertama, gejolak syahwat. Banyak orang yang terpeleset oleh gejolak ketertarikan pada lawan jenis ini. Bagi mereka yang belum menikah, gejolak ini biasanya lebih besar dan lebih berpeluang “menggoda.” Kedua, gejolak amarah. Seperti kisah Khalid saat menghadapi Jahdam dan pemuka bani Jazimah, gejolak amarah ini bisa berakibat fatal termasuk bagi citra dakwah, hubungan antar aktivis dakwah, dan terjadinya fitnah di antara kaum muslimin. Ketiga, gejolak heroisme. Semangat heroisme memang bagus dan sangat perlu, tetapi ketika sudah tidak proporsional ia akan mendatangkan sikap ekstrem yang berbahaya bagi kemaslahatan dakwah dan umat. Kasus pembunuhan terhadap Nuhaik yang dilakukan Usamah bin Zaid adalah contohnya. Keempat, gejolak kecemburuan. Seperti kecemburuan Anshar pada para mualaf yang mendapatkan hampir semua ghanimah perang Hunain, sikap ini bisa berefek pada melemahnya soliditas internal jamaah. Meskipun yang dicemburui oleh Anshar sebenarnya adalah perhatian Rasulullah dan bukan materi ghanimah-nya, gejolak ini segera diselesaikan Rasulullah karena jika dibiarkan bisa berdampak negatif.

Ketidakseimbangan aktivitas juga menimbulkan problematika tersendiri. Ketidakseimbangan antara aktivitas ruhaniyah dengan aktivitas lapangan, ketidakseimbangan antara dakwah di dalam dengan di luar rumah tangga, ketidakseimbangan antara aktivitas pribadi dengan organisasi, ketidakseimbangan antara amal tarbawi dengan amal siyasi, ketidakseimbangan antara perhatian terhadap aspek kualitas dengan kuantitas SDM; semuanya bisa berakibat negatif. Tawazun atau keseimbangan yang merupakan asas kehidupan, juga harus dipraktekkan dalam kehidupan berjamaah dan oleh semua aktivis dakwah.

Latar belakang dan masa lalu aktivis yang buruk bisa pula menjadi problematika internal dakwah jika tidak dilakukan langkah-langkah solutif. Latar belakang keagamaan keluarga, misalnya. Ia bisa berbentuk lemahnya tsaqafah Islam, tekanan keluarga yang menentang aktivitas dakwah, dan kerancuan dalam orientasi kehidupan. Sedangkan masa lalu yang “jahiliyah” bisa membawa dampak yang kurang menguntungkan bagi kredibilitas sang aktivis dakwah. Solusi atas problem ini terangkum dalam kata “mujahadah.” Bagaimana seorang aktivis melakukan muhasabah, menyadari kelemahannya dan melakukan perbaikan diri. Masa lalu memang tidak bisa diubah, tetapi pengaruhnya bisa dikendalikan.

Problematika internal yang keempat adalah penyesuaian diri. Yakni penyesuaian diri terhadap karakteristik pendekatan dan sikap dakwah yang melekat pada masing-masing marhalah dan orbit dakwah. Sebagaimana corak dakwah yang berbeda antara fase Makkiyah dan Madaniyah, bahkan masa sirriyah dan jahriyah pada fase Makkah yang juga berbeda, dakwah saat ini juga mengalami hal yang sama; ada tahap-tahapnya. Antara mihwar tanzhimi yang berkonsentrasi pada konsolidasi internal dan mihwar muassasi yang konsen pada perjuangan politik membuat beberapa kader dakwah tidak mampu menyesuaikan diri. Hambatannya bisa karena sifat “kelambanan” kemanusiaan, kecenderungan jiwa, keterbatasan dan perbedaan tsaqafah, sampai keterbatasan kapasitas. Untuk mengatasi problem ini dibutuhkan peran kelembagaan dakwah. Jamaah dakwah perlu melakukan persiapan perubahan fase dakwah, mensosialisasikan cara pandang yang disepakati tentang batas-batas pengembangan dakwah sehingga jelas mana yang termasuk pengembangan (tathwir) dan mana yang termasuk penyimpangan (inhiraf). Jamaah dakwah juga harus mendefinisikan mana yang asholah dan tsawabit, serta mana yang mutaghayyirat.

Problem internal kelima adalah friksi internal. Friksi ini bisa timbul dari lingkungan yang kecil seperti intern sebuah lembaga dakwah, atau antar lembaga, atau antar personal pendukung dakwah. Banyak gerakan dakwah yang harus tutup usia dan kini tinggal nama karena problematika ini. Friksi dalam sejarah dakwah memberi beberapa pelajaran penting bagi kita: bahwa friksi merupakan indikasi kelemahan proses tarbiyah, friksi menandakan adanya kelemahan dalam penjagaan diri para aktivis dakwah, restrukturiasi dakwah tepat dilakukan terhadap orang-orang yang telah memahami karakter dakwah itu sendiri, friksi juga bukti keberadaan ego manusia, penumbuhan al-wa’yul islami (kesadaran berislam) dan al-wa’yu ad-da’awi (kesadaran dakwah) lebih utama dibandingkan sekadar meletupkan hamasah (semangat) bergerak, dan sangat mungkin friksi timbul karena hadirnya pihak ketiga yang sengaja “memecah” jamaah.


Problematika Eksternal Dakwah

Problematika eksternal dakwah yang bisa menjadi bahaya besar bagi kebaikan bangsa dan masyarakat Indonesia, khususnya umat Islam meliputi problematika spiritual dan kultural, problematika moral, dan problematika sistemik.

Di antara problematika dakwah di Indonesia yang menyangkut aspek spiritual dan kultural adalah: berhala-berhala modern baik berupa teknologi yang dijadikan rujukan kebenaran, sains yang diabsolutkan, materi yang ditaati, maupun kekuasaan yang dipuja-puja; syirik, khurafat dan tahayul yang masih merebak di masyarakat; globalisasi dan dialektika kultural; serta tradisi baik yang sudah tergerus dan tergantikan dengan budaya negatif efek perkembangan peradaban.

Problematika moral di antaranya adalah minuman keras dan penyalahgunaan obat-obatan, penyelewengan seksual, perjudian dan penipuan, serta tindakan brutal dan kekerasan.

Sedangkan yang dimaksudkan dengan problematika sistemik adalah korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN), kemiskinan, kebodohan, dan ancaman disintegrasi bangsa.

Daya Tahan di Medan Dakwah

Dakwah yang merupakan jalan panjang dan lintas generasi niscaya memerlukan daya tahan yang permanen. Bagi, individu kader dakwah daya tahan ini jug harus dimiliki agar tetap istiqamah sampai mengakhiri sejarah kehidupannya dengan husnul khatimah. Untuk itu, paling tidak ada lima faktor yang perlu dimiliki para aktivis dakwah untuk merealisir daya tahan di medan dakwah: menguatkan dan membersihkan motivasi, menggapai derajat iman, menggandakan kesabaran, kekuatan ukhuwah, dan dukungan soliditas struktur.

Untuk menguatkan dan membersihkan motivasi kita perlu selalu memahami makna ikhlas dan berupaya mencapainya dengan jalan: senantiasa memperbaharui niat, berusaha keras menunaikan kewajiban, berusaha keras mewujudkan kecintaan kepada Allah, merasakan pengawasan Allah, dan hati-hati dalam beramal.

Untuk mencapai derajat iman kita perlu : memiliki orientasi rabbani, yakni menjadikan seluruh aktivitas selalu berorientasi kepada Allah, dan sebaliknya, berhati-hati terhadap orientasi duniawi. Jika kita mampu mencapai derajat iman ini, maka Allah menjanjikan kemenangan atas musuh, jaminan bahwa orang-orang kafir takkan menguasai, mendapatkan izzah, mendapatkan kehidupan dan rezeki yang baik, menjadi khalifah di muka bumi, serta mendapatkan surga di akhirat nanti.

Untuk bisa menggandakan kesabaran kita perlu memberikan dorongan jiwa untuk mengejar dengan sungguh-sungguh faedah-faedah yang ditimbulkan oleh kesabaran, dan betapa besar buahnya bagi agama dan keduniaan kita serta melawan pengaruh hawa nafsu. Jika kesabaran telah kita miliki maka kita akan mendapatkan hikmahnya yang luar biasa: dijadikan pemimpin, pahala yang besar, kebersamaan Allah, dan mendapatkan berbagai macam kebaikan karena sabar.

Untuk membangun ukhuwah kita perlu memotivasi diri dengan keteladanan ukhuwah di zaman kenabian lalu memperbaiki hubungan sesama aktivis dakwah berlandaskan cinta dan kasih sayang. Kita juga harus meminimalisir penghambat-penghambat ukhuwah. Jika kekuatan ukhuwah ini terbangun kokoh, maka daya tahan kita sebagai aktivis dakwah maupun daya tahan jamaah di medan dakwah akan semakin kokoh.

Sedangkan upaya membangun soliditas struktur paling tidak meliputi konsolidasi manajerial dan konsolidasi operasional. Konsolidasi manajerial dilakukan dengan penataan manajemen yang bagus dan profesional dalam setiap jalur dan lini. Selain mengambil prinsip-prinsip dari Al-Qur’an dan Hadits, prinsip manajemen modern juga bisa diterapkan. Konsolidasi operasional dimaksudkan untuk mensinkronkan berbagai kegiatan dalam skala gerakan, sekaligus senantiasa mengarahkan gerak dakwah kepada tujuan yang ditetapkan. Selain itu, untuk membangun soliditas struktur perlu menghindari hal-hal yang bisa merusaknya yaitu munculnya sekat komunikasi dan lemahnya imunitas struktural (mana’ah tanzhimiyah).

Yang Tegar di Jalan Dakwah

Jalan dakwah ini pasti dipenuhi dengan beragam kesulitan, hambatan, rintangan, tribulasi. Para aktifisnya akan berhadapan dengan beragam mihnah, sebagaimana para dai generasi sebelumnya sejak Rasulullah dan para sahabatnya, tabi’in, tabiit tabi’in, dan seterusnya.

Di antara mihnah itu ada yang berupa ejekan, gelombang fitnah, teror fisik, manisnya rayuan, tekanan keluarga, keterbatasan ekonomi, kemapanan, sampai kekuasaan. Kader dakwah harus tegar dalam menghadapi semua mihnah itu.

Agar tegar dalam menghadapi ejekan, sadarilah bahwa ejekan kepada Rasulullah jauh lebih hebat; maka biarkan saja semua orang mengejek, tidak perlu diladeni. Agar tegar dalam menghadapi fitnah, tetaplah bekerja dan beramal maka umat akan tahu siapa yang benar dan siapa yang tukang fitnah. Agar tegar dalam menghadapi teror fisik, tawakallah kepada Allah dan berdoalah senantiasa, di samping persiapan lain yang juga perlu dilakukan oleh struktur dakwah. Agar tegar dalam menghadapi manisnya rayuan, jagalah keikhlasan dan senantiasa memperbarui niat, waspada dan tetap bersama jamaah. Agar tegar dalam menghadapi tekanan keluarga, ketegasan harus diutamakan . Iman tidak bisa ditukar dengan keluarga, jika memang itu pilihannya. Agar tegar dalam kondisi kekurangan/keterbatasan ekonomi, bersabar adalah kuncinya. Kekuatan ukhuwah sesama aktivis dakwah juga berperan penting untuk menjaga kita tetap tegar. Agar tegar dalam kemapanan harus memiliki paradigma semakin banyak kekayaan, semakin banyak kontribusi bagi dakwah. Maka yang diteladani adalah Utsman bin Affan dan Abdurrahman bin Auf. Agar tegar di puncak kekuasaan, kelurusan orientasi perjuangan, ketaatan pada manhaj dakwah Rasulullah dan keyakinan akan janji-janji-Nya. Dan pada semua mihnah, kedekatan dengan Allah dan tawakal kepada-Nya merupakan kunci utama agar tegar di jalan dakwah!

doaku untuk seseorang yang akan menyempurnakan separuh agamaku

Ya Rabbi Maha Penguasa hati ini
Aku berdoa di sujud malamku
ditengah gelapnya awan yang disaksikan para bintang dan bulan
aku tau Engkau sangat mengetahui siapa yang paling terbaik untukku
diantara yang terbaik pasti akan ada yang lebih baik
siapapun itu yang akan menjadi bagian dalam hidupku
semoga akan menjadi imam yang baik untukku
bukan sekedar untuk aku tapi untuk keluargaku
yang mampu mengarahkan aku menuju jalan kebaikan
jalan yang Engkau Ridhai

Ya Rabbi Maha Pembolak balik hati
Aku tau betapa tidak sempurnanya diriku
Tapi sungguh besar keinginankau
Agar Engkau memberikan sosok suami yang luar biasa untukku
Yang akan menjadi penyempurna agamaku nanti
Luar biasa imannya, luar biasa akhlaknya, luar biasa dakwahnya
Tampan luar dalam
Yang mampu membimbingku nantinya

Ya Rabbi Maha Penguasa kerajaan langit dan bumi
Aku bertasbih kepadaMu atas segala ciptaanMu
Aku sangat yakin atas pilihanMu
Aku sangat yakin rizky yang akan Engkau berikan padaku
tidak akan mungkin tertukar walau sedikitpun
aku sangat yakin Engkau akan melipatgandakan rizky
untuk keluarga yang akan aku bina nantinya

Ya Rabbi Maha Penyayang dan pengasih
Jika memang suami yang akan Engkau takdirkan untukku
sudah ada didepan mataku
jika memang dia sosok yang Engkau titipkan untukku
persatukan kami dengan cara yang baik
dengan cara yang Engkau Ridhai
perlihatkanlah kebaikan yang ada pada dirinya
agar aku semakin yakin atas dirinya
jika memang belum Engkau perlihatkan sosok suami untukku
dekatkanlah kami ya Rabbi..

Ya Rabbi Maha Pemilik cinta
Memendam rasa memang sangat menyakitkan
Tapi aku rela ya Rabb demi Engkau
Demi mendapatkan yang terbaik
Berikan kesabaran dan keikhlasan untuk aku dalam menunggu
Menunggu sosok yang akan Engkau pilihkan untuk menemani kehidupanku

Ya Rabbi Maha Pengampun dosa
Berikan aku kesempatan untuk senantiasa memperbaiki diri
Aku sangat yakin atas firmanMu dalam Al Quran
Wanita baik-baik akan mendapatkan laki-laki yang baik
Jadi bimbing aku untuk meningkatkan keimananku..
Untuk tetap istiqomah dijalanMu

Ya Rabbi
Aku tak mau hati ini terkotori dengan cinta selainMu
Jadi berikan aku sosok suami
Yang mampu membuatku makin mencintaiMu
Dari hari ke hari..

Doa ini kupanjatkan ditengah malamMu..
Semoga malaikat Ikut mengamini..
Terima kasih ya Rabb atas cinta ini..
Jika cinta belum dipertemukan
Biarkan cinta yang ku rasa saat ini
Akan tetap berekspresi menjadi sebuah keshalehan..
Amin ya Allah..

0:41 AM
Liawati anakumi

menurut anda apakah blog ini bermanfaat?

Blog Writing Competition 2015

Blog Writing Competition 2015

Blog Writing Competition 2015
Kompetisi Blog Summarecon

Pojok Pulsa

Lomba Blog Pojok Pulsa 2015

Smartfren 4G LTE Advanced

Search

"Liawati Anakumi"

Foto saya
Depok, Jawa Barat, Indonesia
seorang anak yang dibesarkan oleh orangtua yang luar biasa, memiliki cita-cita menjadi sholehah, berusaha menjadi diriku dengan segala kekuranganku dan menjadi diriku dengan segala kelebihanku, pembelajar yang terus mau belajar.. sanguinis dan plegmatis personal.. bagiku sastra adalah bagian dari kehidupan, dengan satu aksara aku bisa menjadi lebih memaknai dunia.. Teacher senior high

My Life

Bukan manusia yang sempurna, tapi berusaha menjadi yang terbaik diantara yang terbaik..

Sangat ingin menggeluti profesi dibidang pendidikan menjadi seorang guru dan konselor yang bermanfaat untuk orang lain dan menjadi pendengar yang baik..

Sangat ingin menggeluti profesi dibidang sastra menulis dan membaca, karena dengan menulis dan membaca dapat merubah dan menaklukan dunia dan isinya..

Memiliki impian yang mustahil terwujud menjadi seorang wartawan (hihiii)..


Special Word

"Ketika Cinta belum dipertemukan biarkanlah cinta berekspresi menjadi sebuah keshalehan"

"maka Nikmat Tuhan yang manakah yang dapat aku dustakan?"

"semua akan indah pada waktuNya"

ya Muhaimin

AL Masyuq


liawatianakumi. Diberdayakan oleh Blogger.