Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu

Atas wujud lain sebuah keindahan, muncul dengan nama Kebahagiaan..

Pahala khusus Wanita

Pada suatu ketika, seorang sohabiah yang bernama Asma'r.ha mendatangi Nabi Muhammad saw. Dan kemudian bertanya kepada Rosul, ”Ya Rasulullah, aku datang sebagai utusan kaum wanita. Sungguh, engkau adalah utusan Allah untuk kaum laki-laki dan juga wanita. Untuk itu, kami sebagai kaum wanita telah beriman kepada Allah dan kepada mu. Kami kaum wanita selalu tingal di dalam rumah saja, tertutup dalam hijab-hijab, dan sibuk menunaikan keperluan serta keinginan suami. Kami selalu mengasuh anak-anak, sedangkan kaum laki-laki selalu mendapat pekerjaan yang memborong pahala. Mereka dapat menghadiri shalat Jum’at, dapat berjamaah shalat lima waktu, dapat menjenguk orang sakit, menyertai jenazah, pergi haji, dan yang paling utama, mereka dapat menghadiri shalat Jum’at, dapat berjamaah shalat lima waktu, dapat menjenguk orang sakit, menyertai jenazah, pergi haji kamilah yang menjaga harta mereka, menjahitkan baju mereka, dan memelihara anak-anak mereka. Maka, apakah kami tidak mendapatkan pahala yang sama dengan mereka?”.

Rasulullah saw. Mendengarkanya dengan penuh perhatian. Kemudian beliau berpaling kepada para sahabatnya dan bersabda,”pernahkah kalian mendengar sebuah pertanyaan agama yang lebih baik daripada pertanyaan wanita ini?”

Para sahabat berkata,”Ya Rasulullah, bahkan kami tidak menduga bahwa kaum wanita akan dapat bertanya seperti itu.”

Lalu beliau berpaling kembali kepada Asma’r.ha. dan bersabda,”Dengarkanlah dengan baik dan perhatikan, lalu sampaikanlah kepada para wanita muslimah yang telah mengirimmu ke sini. Apabila para istri selalu berbuat baik kepada suaminya, selalu mentaatinya, melayaninya dengan baik, dan berusaha membuat suaminya selalu bergembira, maka itu adalah sesuatu yang sangat berharga. Jika semua itu dapat kalian kerjakan, kalian akan mendapatkan pahala yang sama dengan kaum laki-laki.”


Mendengar jawaban Nabi saw. Itu, hati Asma’ r.ha. sangat gembira. Kemudian ia segera kembali menjumpai kaumnya dan segera mengabarkan berita gembira ini.


Subhanallah, luar biasa pahala khusus wanita, jangan pernah meremehkan hal kecil dalam rumah tangga, sesungguhnya dalam kehidupan rumah tangga banyak pahala dan keberkahan mengalir didalamnya.. sesungguhnya menikah adalah menyempurnakan separuh agama..


Rasulullah bersabda:

”Demi Allah Yang nyawaku di dalam gengaman-Nya, seorang istri tidak dapat memenuhi hak-hak Allah sebelum ia memenuhi hak-hak suaminya"

"Seandainya aku dibolehkan memerintah seseorang bersujud kepada selain Allah, maka akan kuperintahkan para istri bersujud di depan suaminya.”

”Jika seorang istri meninggal dunia dan suaminya rela kepadanya, istri itu pasti masuk surga.”

”Seorang istri yang memarahi suaminya dan berpisah tidur pada malam harinya, maka pada itu para malaikat melaknatnya sampai pagi.”

“ Ada dua jenis manusia yang shalatnya tidak akan diterima, sehingga tidak akan naik ke langit melebihi kepala mereka. Pertama, seorang hamba yang lari dari tuannya. Dan kedua, seorang istri yang tidak mentaati suaminya.” 

yukk untuk para wanita, kita beromba-berlomba menjadi istri shalehah dan memberikan yang terbaik untuk suami kita nantinya.. mulai belajar dari sekarang, agar nantinya kaya akan pengetahuan, amiin  ^_^ 
 ya Muhaimin


AL Masyuq

Bingkai Cinta


Sahabat, ada sebuah kisah menarik dari pejalan hidup seorang pria dalam mengarungi hidup ini bersama istrinya, mudah-mudahan bisa mengambil hikmah dari cerita ini. Intinya adalah tiada kesetiaan tanpa kesetian.

Usianya sudah tidak terbilang muda lagi, 60 tahun. Orang bilang sudah senja bahkan sudah mendekati malam, tapi Pak Suyatno masih bersemangat merawat istrinya yang sedang sakit. Mereka menikah sudah lebih 32 tahun. Dikaruniai 4 orang anak.

Dari sinilah awal cobaan itu menerpa, saat istrinya melahirkan anak yang ke empat. tiba-tiba kakinya lumpuh dan tidak bisa digerakkan. Hal itu terjadi selama 2 tahun, menginjak tahun ke tiga seluruh tubuhnya menjadi lemah bahkan terasa tidak bertulang, lidahnyapun sudah tidak bisa digerakkan lagi.

Setiap hari sebelum berangkat kerja Pak Suyatno sendirian memandikan, membersihkan kotoran, menyuapi dan mengangkat istrinya ke tempat tidur. Dia letakkan istrinya di depan TV agar istrinya tidak merasa kesepian. Walau istrinya sudah tidak dapat bicara tapi selalu terlihat senyum. Untunglah tempat berkantor Pak Suyatno tidak terlalu jauh dari kediamannya, sehingga siang hari dapat pulang untuk menyuapi istrinya makan siang.

Sorenya adalah jadwal memandikan istrinya, mengganti pakaian dan selepas maghrib dia temani istrinya nonton televisi sambil menceritakan apa saja yg dia alami seharian. Walaupun istrinya hanya bisa menanggapi lewat tatapan matanya, namun begitu bagi Pak Suyatno sudah cukup menyenangkan. Bahkan terkadang diselingi dengan menggoda istrinya setiap berangkat tidur. Rutinitas ini dilakukan Pak Suyatno lebih kurang 25 tahun. Dengan penuh kesabaran dia merawat istrinya bahkan sambil membesarkan ke 4 buah hati mereka. Sekarang anak- anak mereka sudah dewasa, tinggal si bungsu yg masih kuliah.

Pada suatu hari saat seluruh anaknya berkumpul di rumah menjenguk ibunya karena setelah anak-anak mereka menikah dan tinggal bersama keluarga masing-masing. Pak Suyatno memutuskan dirinyalah yang merawat ibu mereka karena yang dia inginkan hanya satu agar semua anaknya dapat berhasil.

Dengan kalimat yang cukup hati-hati, anak yang sulung berkata:
“Pak kami ingin sekali merawat ibu, semenjak kami kecil melihat bapak merawat ibu tidak ada sedikitpun keluhan keluar dari bibir bapak,bahkan bapak tidak ijinkan kami menjaga ibu." Sambil air mata si sulung berlinang.

"Sudah keempat kalinya kami mengijinkan bapak menikah lagi, kami rasa ibupun akan mengijinkannya, kapan bapak menikmati masa tua bapak, dengan berkorban seperti ini, kami sudah tidak tega melihat bapak, kami janji akan merawat ibu sebaik-baik secara bergantian”. Si Sulung melanjutkan permohonannya.

”Anak-anakku...Jikalau perkawinan dan hidup di dunia ini hanya untuk nafsu, mungkin
bapak akan menikah lagi, tapi ketahuilah dengan adanya ibu kalian di sampingku itu sudah lebih dari cukup,dia telah melahirkan kalian….*sejenak kerongkongannya tersekat*… kalian yang selalu kurindukan hadir di dunia ini dengan penuh cinta yang tidak satupun dapat dihargai dengan apapun.
Coba kalian tanya ibumu apakah dia menginginkan keadaanya seperti ini ?? Kalian menginginkan bapak bahagia, apakah bathin bapak bisa bahagia meninggalkan ibumu dengan keadaanya seperti sekarang, kalian menginginkan bapak yang masih diberi Tuhan kesehatan dirawat oleh orang lain, bagaimana dengan ibumu yang masih sakit." Pak Suyatno menjawab hal yang sama sekali tidak diduga anak-anaknya

Sejenak meledaklah tangis anak-anak Pak Suyatno, merekapun melihat butiran-butiran kecil jatuh di pelupuk mata Ibu Suyatno..dengan pilu ditatapnya mata suami yang sangat dicintainya itu……Sampailah akhirnya Pak Suyatno diundang oleh salah satu stasiun TV swasta untuk menjadi nara sumber dan merekapun mengajukan pertanyaan kepada Pak Suyatno kenapa mampu bertahan selama 25 tahun merawat Istrinya yg sudah tidak bisa apa-apa....disaat itulah meledak tangisnya dengan tamu yang hadir di studio kebanyakan kaum perempuanpun tidak sanggup menahan haru.

Disitulah Pak Suyatno bercerita : “Jika manusia di dunia ini mengagungkan sebuah
cinta dalam perkawinannya, tetapi tidak mau memberi waktu, tenaga,pikiran, perhatian itu adalah kesia-siaan. Saya memilih istri sayamenjadi pendamping hidup saya, dan sewaktu dia sehat diapun dengan sabar merawat saya, mencintai saya dengan hati dan bathinnya bukan dengan mata, dan dia memberi saya 4 anak yang lucu-lucu..Sekarang saat dia sakit karena berkorban untuk cinta kami bersama… dan itu merupakan ujian bagi saya, apakah saya dapat memegang komitmen untuk mencintainya apa adanya. Sehatpun belum tentu saya mencari penggantinya apalagi dia sakit...” Sambil menangis"

Setiap malam saya bersujud dan menangis dan saya hanya dapat bercerita kepada Allah di atas sajadah..dan saya yakin hanya kepada Allah saya percaya untuk menyimpan dan mendengar rahasia saya ..."BAHWA CINTA SAYA KEPADA ISTRI, SAYA SERAHKAN SEPENUHNYA KEPADA ALLAH".

Mudah-mudahan kita bisa mengambil pelajaran berharga dari kisah diatas,amin.


thanks to isyeu atas artikelnya.
Stay cool in http://newmasgun.blogspot.com

Bangun Cinta


saya rasa menjadi seorang aktivis  bukan berarti kita harus kehilangan hal-hal kemanusiawian kita yang disebut dengan "cinta", itu bukan hal yang salah kok, itu juga bukan hal yang harus dihilangkan, malah justru cinta adalah suatu anugerah dari yang Maha Kuasa karena cinta adalah fitrahnya setiap insan didunia.. yang perlu diingat adalah bukan memaksa menekan perasaan itu sampai hilang tapi justru bagaimana cinta itu berbuah indah dan tidak merusak, ya berarti kita harus mengkemas dan menyimpannya secara rapi di lembar terdalam hati kita  sampai waktunya tiba..
kalo cinta malah membuat sang pencintanya menjadi malas, malas kuliah, malas kerja, malas ngapa-ngapain, malas dakwah, bahkan malas mandi dan makan karena mikirin si "dia", itu namanya cinta yang gak bener, itu bukan cinta yang sesungguhnya tapi cinta yang dzalim.. yang harus segera di hentikan!!

saya mulai berfikir, mungkin yang dinamakan cinta itu bukan berarti malah membuat dzalim, seharusnya ketika kita mulai "mencintai" justru  kita harus lebih produktif, bukan mundur kebelakang tapi energi di diri kita juga menjadi semakin bertambah, dan semakin mencintai Rabbnya.. karena cinta itu indah, karena cinta juga adalah bahasa hati yang berasal dari Illahi..

ya memang harus di buang jauh-jauh yang namanya "Jatuh Cinta" yang membuat sang pencinta semakin terpuruk TAPI peliharalah "Bangun Cinta" yang membuat sang pencinta lebih produktif dan semangat..

Allahualam..
setiap manusia berbeda dalam mengekspresikan cinta..

ya Muhaimin

AL Masyuq

"Cinta Harus Diupayakan"

entah dimana letaknya hati, entah dimana pula cinta tumbuh dan mekar harum mewangi, aku sendiripun tidak tahu persis keberadaannya, tapi aku bisa merasakannya.. ajaib!! huahh menurutku ini semua alamiah terjadi dan fitrahnya manusia untuk mencintai dan dicintai.. setiap manusia normal pasti akan merasakan getar-getar cinta dalam hatinya, tapi itu semua harus dikemas secara cantik sampai waktunya tiba..

"cinta itu bahasa hati dan hanya Allah-lah yang berkuasa atas hati kita. mencintai seseorang adalah karunia yang Ia berikan, cinta adalah fitrah kita sebagai manusia, mengapa kita harus menyangkalnya. kalau cinta sedang tumbuh, peliharalah ! dan dengan bimbingan-Nya Ia akan membuka jalan menuju penyatuan yang diridhoi-Nya" amiin

well, ngomongin masalah cinta pasti ada kaitannya dengan jodoh, jodoh memang misteri entah siapa yang mengetahui jodohnya masing-masing, tidak ada satu orangpun yang bisa menentukan siapa jodohnya kecuali Allah SWT.. ya ya ya lagi-lagi manusia hanya bisa berusaha dan berdoa, dalam setiap penghujung doapun selalu ada lantunan indah yang terselip "persatukan kami ya Rabb".

cinta bagaikan bola salju (itu kalo kata sule, hhaaa),  tapi Mencintai seseorang saat belum ada hak atasnya, bagaikan menggenggam bara. Jika Allah berkenan menjadikannya pendamping seumur hidup, maka bara itu akan menjelma menjadi energi untuk meciptakan kebersamaan yang indah. Tetapi, jika Allah tidak berkenan mempersatukan, bara itu akan membakar, dan bisa jadi menghanguskan diri sendiri. hhmmm jika memang kita menginginkan bara itu menjadi sebuah energi artinya cinta itu bukan diam tapi harus di upayakan meskipun untuk hasil Allah lah yang menentukan..

ada dua pertanyaan yang memang sulit untuk menjawabnya  bahkan aku sendiripun bingung, tidak ada jawaban yang salah ataupun jawaban yang benar, semua lagi-lagi dikembalikan pada masing-masing orang yang menjawabnya..
oke, pertanyaan pertama adalah menikah dengan orang yang kau cintai,? sedangkan pertanyaan kedua adalah mencintai orang yang kau nikahi?..
ZZzzz serupa tapi tak sama, menikah dengan orang yang kau cintai artinya ada upaya dari seseorang untuk berusaha mendapatkan seorang yang dicintainya untuk merajut kebersamaan dalam mahligai rumah tangga.. waahh subhanallah pasti akan bahagia jika yang ini terwujud..
mencintai orang yang kau nikahi? memang dari pertanyaannya sangat terlihat pasrah sekali, seolah-seolah menerima apa adanya.. TAPI kita harus tetap bersyukur artinya Allah telah menetapkan yang terbaik untuk pasangan hidup kita untuk selalu kita cintai dan mulai membangun cinta..


tetapi aku pribadi akan lebih senang denganpertanyaan pertama, seperti halnya fatimah dinikahi oleh ali dan khodijah dinikahi oleh nabi Muhammad, memang harus ada upaya untuk cinta, bukan diam!
tetapi kalaupun pertanyaan kedua adalah sesuatu yang menjadi pilihan hidup kita, ya tidak ada yang tidak mungkinlah di dunia ini semua pasti akan terjadi.. insyaallah siapapun itu pasti yang terbaik, Demi Allah orang yang akan menggenapkan separuh dien kita sudah tertulis rapi di Lauh Mahfudz..

"aku ingin sekali mewujudkan pertanyaan pertama, tapi jika Allah tidak berkenan, semoga Allah memberikan energi  kepadaku untuk mengupayakan pertanyaan kedua"


ya Muhaimin

AL Masyuq

"Tauladan hingga akhir Zaman"

Sebuah kisah inspiratif yang membuat bulu kuduk saya merinding, yang membuat saya malu dengan diri saya sendiri, dan yang paling penting  mengingatkan saya pada sosok tauladan akhir zaman, sosok yang membuat umat ini merasakan betapa indahnya islam, sosok yang mengajarkan umat ini  tentang kasih sayang, serta sosok yang sunahnya menjadi syafaat ketika yaumil akhir nanti..

yuukk dengar kisahnya..

Dahulu di sebuah kota di Madura, ada seorang nenek tua penjual bunga cempaka. Ia menjual bunganya di pasar, setelah berjalan kaki cukup jauh. Usai jualan, ia pergi ke masjid Agung di kota itu. Ia berwudhu, masuk masjid, dan melakukan salat Zhuhur. Setelah membaca wirid sekedarnya, ia keluar masjid dan membungkuk-bungkuk di halaman masjid. Ia mengumpulkan dedaunan yang berceceran di halaman masjid. Selembar demi selembar dikaisnya. Tidak satu lembar pun ia lewatkan.

Tentu saja agak lama ia membersihkan halaman masjid dengan cara itu. Padahal matahari Madura di siang hari sungguh menyengat. Keringatnya membasahi seluruh tubuhnya.
Banyak pengunjung masjid jatuh iba kepadanya. Pada suatu hari Takmir masjid memutuskan untuk membersihkan dedaunan itu sebelum perempuan tua itu datang.
Pada hari itu, ia datang dan langsung masuk masjid. Usai salat, ketika ia ingin melakukan pekerjaan rutinnya, ia terkejut. Tidak ada satu pun daun terserak di situ. Ia kembali lagi ke masjid dan menangis dengan keras. Ia mempertanyakan mengapa daun-daun itu sudah disapukan sebelum kedatangannya. Orang-orang menjelaskan bahwa mereka kasihan kepadanya. "Jika kalian kasihan kepadaku," kata nenek itu, "Berikan kesempatan kepadaku untuk membersihkannya."

Singkat cerita, nenek itu dibiarkan mengumpulkan dedaunan itu seperti biasa.
Seorang kiai terhormat diminta untuk menanyakan kepada perempuan itu mengapa  ia begitu bersemangat membersihkan dedaunan itu. Perempuan tua itu mau menjelaskan sebabnya dengan dua syarat: pertama, hanya Kiai yang mendengarkan rahasianya; kedua, rahasia itu tidak boleh disebarkan ketika ia masih hidup.
Sekarang ia sudah meninggal dunia, dan kita dapat mendengarkan rahasia itu
"Saya ini perempuan bodoh, pak Kiai," tuturnya. "Saya tahu amal-amal saya yang kecil itu mungkin juga tidak benar saya jalankan. Saya tidak mungkin selamat pada hari akhirat tanpa syafaat Kanjeng Nabi Muhammad. Setiap kali saya mengambil selembar daun, saya ucapkan satu salawat kepada Rasulullah. Kelak jika saya mati, saya ingin Kanjeng Nabi menjemput saya. Biarlah semua daun itu bersaksi bahwa saya membacakan salawat kepadanya."

Shollu A'laih

mungkin saat ini banyak sunah-sunah beliau yang belum kita lakukan, bahkan sering pula kita abaikan, padahal sungguh besar kecintaan Rosul pada umatnya sampai terbawa pada saat ajal mendatanginya.. ummati ummati ummati
yuukkk sebagai wujud kecintaan kita pada Rosul, minimal kita bershalawat kepada Rosul.. insya Allah ga ada ruginya malah justru limpahan rahmat akan kita terima,
"Orang yang bershalawat satu kali mendapat balasan sepuluh shalawat dari Allah SWT."

subhanallah..


“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bersholawat untuk nabi. Hai orang-orang yang beriman, bersholawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS. Al Ahzab : 56)

Alangkah indahnya hidup ini andai dapat ku tatap wajahmu
akan pasti mengalir air mataku karena kerinduanku padamu
ya Rosulullah ya Habiballah
sungguh ku rindu padamu..

AL Masyuq

senandung untuk ayah

Dimana…akan kucari
Aku menangis seorang diri
Hatiku….s`lalu ingin bertemu
Untukmu…aku bernyanyi

Lihatlah…hari berganti
Namun tiada seindah dulu
Datanglah..aku ingin bertemu
Untukmu…aku bernyanyi

Untuk ayah tercinta, daku ingin bernyanyi
Dengan air mata di pipiku…
Ayah, dengarkanlah aku ingin berjumpa
Walau hanya dalam mimpi…

Membina Angkatan Mujahid


Buku Membina Angkatan Mujahid  ini berisi tentang risalah talim dan mengenai kehidupan Hasan Al Banna, dalam bab Awal diperkenalkan sosok Hasan Al Banna serta pergerakan jamaah Ikhwanul Muslimin (IM), Bab berikutnya memahami tujuan IM, yakni tujuan akhirnya  adalah Tegaknya Daulah Khilafiah Islamiyah, serta dunia seluruhnya hanya tunduk kepada ALLAH SWT, kemudian dijelaskan sarana-sarana untuk mencapai tujuan tersebut. Bab selanjutnya yang paling penting, yakni Risalah Ta’alim dan sendi-sendi pembentukan pribadi Islam, yang terdiri dari dua bagian, bagian pertama rukun bai’at, kemudian diiringi dengan kewajiban-kewajiban seorang Mujahid.
Tentang Ikhwanul Muslimin (IM), melalui penjelasan Ustadz Hasan Al-Banna, didapati dua fenomena: Pertama, Ikhwan sebagai sebuah jamaah yang memusatkan perhatian pada pelayanan umum. Ia ikut bersama-sama dengan semua jamaah Islam yang ada untuk berkhidmat kepada masyarakat umum dengan berbagai sarana; Kedua, Ikhwan sebagai sebuah gerakan pembaharuan. Hasan Al-Banna telah memfokuskan perhatiannya pada fenomena yang kedua ini, karena aspek inilah yang terpenting. Diantara fenomena pembaharuan dalam gerakan ini ialah Ikhwan memahami betul berbagai kebutuhan amal Islami dewasa ini, yang selama ini diabaikan oleh umat Islam sendiri. Islam memerlukan gerakan yang menyeluruh, yang menjadikan seorang muslim biasa merasakan bahwa dirinya muslim, merasakan bahwa kita hidup bersama-sama, juga merasakan keterikatan secara umum dengan Islam dan kaum muslimin, serta merasakan pula ikatan khusus dengannya.
Tanggung jawab  pertama Jamaah atau  pimpinanya adalah mengubah kondisi pribadi muslim dan selanjutnya kaum muslimin. Orang muslim kini lemah rasa keIslamannya dan lemah pula emosi penisbatan dirinya kepada Islam, selain itu juga lemah perasaannya bahwa ia adalah bagian dari umat Islam. Karena itu, pekerjaan pertama kita adalah membangkitkan perasaan muslim tentang eksistensi keislamannya dan eksistensi kejamaahannya.
Dalam Risalah Ta’alimnya, Hasan Al Banna menyatakan,”Adapun tingkatan amal
yang dituntut dari seorang akh yang tulus adalah:
1.      Perbaikan dirinya sendiri, sehingga menjadi orang yang kuat fisiknya, kokoh  ahlaknya, luas wawasannya, mampu mencari penghidupan, selamat akidahnya, benar ibadahnya, pejuang bagi dirinya sendiri, penuh perhatian akan waktunya, rapi urusannya, bermanfaat bagi orang lain.
2.      Pembetukqan Keluarga Muslim, yaitu dengan mengkondisikan keluarga, agar menghargai fikrahnya, menjaga etika Islam dalam setiap aktifitas kehidupan rumah tangganya.
3.                            Bimbingan masyarakat, yakni menyebarkan dakwah, memerangi perilaku yang kotor dan mungkar, mendukung perilaku utama, amar ma’ruf, bersegera mengerjakan kebaikan.
4.      Pembebasan Tanah Air dari setiap penguasa asing – Non Islam – baik secara politik, ekonomi maupun moral. Memperbaiki keadaan pemerintah, sehingga menjadi pemerintah Islam yang baik, dengan begitu ia dapat memainkan perannya sebagai pelayan umat, dan pekerja yang bekerja demi kemaslahatan umat.
5.      Usaha mempersiapkan seluruh asset negeri di dunia ini untuk kemaslahatan Islam; dengan cara membebaskan seluruh negeri, membangun kejayaannya, menegakkan peradabannya,
6.      Penegakan kepemimpinan dunia dengan penyebaran dakwah Islam di negeri.
Dalam Risalah Ta’alimnya, Ustadz Hasan Al-Banna mengatakan,”Tahapan
dakwah ada tiga macam:
1.     - TA’RIF
Dakwah dilakukan dengan menyebarkan fikrah Islam di tengah masyarakat. Adapun system dakwah untuk tahapan ini adalah system kelembagaan.
2.     -  TAKWIN
Dakwah ditegakkan dengan melakukan seleksi terhadap anasir positif untuk memikul beban jihad dan untuk menghimpun berbagai bagian yang ada.
3.     -  TANFIDZ
Dakwah dalam tahapan ini adalah jihad, tanpa kenal sikap plin-plan, kerja terus menerus untuk menggapai tujuan akhir, dan kesiapan menanggung cobaan dan ujian yang tidak mungkin bersabar atasnya, kecuali orang-orang yang tulus.

Dalam Risalah Ta’alimnya, Ustadz Hasan Al-Banna menjelaskan tentang batasan-batasan bai’at yang dibutuhkan dewasa ini, adalah:
1.      1. Bai’at untuk memahami Islam secara benar.
2.      2. Bai’at untuk berikhlas.
3.      3. Bai’at untuk beraktifitas,
4.      4. Bai’at untuk melakukan jihad,
5.      5. Bai’at untuk berkorban dengan segala yang dimiliki
6.      6. Bai’at untuk taat sesuai dengan tingkat kemampuannya.
7.      7. Bai’at untuk tegar menghadapi segala kondisi di setiap waktu.
8.      8. Bai’at untuk memberikan loyalitas total bagi dakwah
9.      9. Bai’at untuk berukhuwah
10.  10. Bai’at untuk tsiqah

KEWAJIBAN-KEWAJIBAN SEORANG MUJAHID

Ustadz Hasan Al-Banna berkata,”Imammu kepada bai’at ini mengharuskanmu menunaikan kewajiban-kewajiban berikut, sehingga engkau menjadi batubata yang kuat bagi bangunan. Adapun KEWAJIBAN-KEWAJIBAN SEORANG MUJAHID sebagai berikut:
1.      - Hendaklah engkau memiliki wirid harian dari Kitabullah tidak kurang dari  satu juz.
2.      Hendaklah engkau membaca Al-Qur’an dengan baik, memeprhatikannya dengan seksama, dan merenungkan artinya.
3.      - Hendaklah engkau mengkaji Sirah Nabi dan sejarah para generasi salaf sesuai   dengan waktu yang tersedia.
4.      melakukan general check up secara berkala
5.      menjauhi sikap berlebihan dalam mengkonsumsi kopi, teh  dan  minuman perangsang
6.     - Hendaklah engkau perhatikan urusan kebersihan dalam segala hal menyangkut tempat tinggal, pakaian,  makanan, badan, dan tempat kerja, karena agama ini dibangun di atas dasar kebersihan.
7.      - Hendaklah engkau jujur dalam berkata dan jangan sekali-kali berdusta.
8.      - Hendaklah engkau menepati janji, janganlah mengingkarinya, bagaimanapun kondisi yang engkau hadapi.
9.      - Hendaklah engkau menjadi seorang yang pemberani dan tahan uji;
10  - Hendaklah engkau senantiasa bersikap tenang dan terkesan serius. Namun janganlah keseriusan itu menghalangimu dari canda yang benar, senyum dan tawa.
11  - Hendaklah engkau memiliki rasa malu yang kuat, berperasaan yang sensitive, dan peka oleh kebaikan dan keburukan, yakni munculnya rasa bahagia untuk yang pertama dan rasa yang tersiksa untuk yang kedua.
12.  Hendaklah engkau bersikap adil dan benar dalam memutuskan suatu perkara pada setiap situasi Hendaklah engkau menjadi pekerja keras dan terlatih dalam aktifitas sosial.
13.  Hendaklah engkau berhati kasih, dermawan, toleran, pemaaf, lemah lembut kepada manusia maupun binatang, berperilaku baik dalam berhubungan  dengan semua orang, menjaga etika-etika sosial Islam.
14.  Hendaklah engkau pandai membaca dan menulis, memperbanyak muthala’ah terhadap risalah Ikhwan, Koran, majalah, dan tulisan lainnya.
15.  Hendaklah engkau memiliki proyek usaha ekonomi, Janganlah engkau terlalu berharap untuk menjadi pegawai negeri namun jangan pula engkau tolak jika diberi peluang untuk itu. Janganlah engkau melepaskannya kecuali jika benar-benar bertentangan dengan tugas-tugas dakwah..
16.  Hendaklah engkau perhatikan penunaian tugas-tugasmu (bagaimana  kecermatan dan kualitasnya), jangan menipu, dan tepatilah kesepakatan..
17.  Hendaklah engkau penuhi hakmu dengan baik, penuhi hak-hak orang lain dengan sempurna, tanpa dikurangi dan dilebihkan, janganlah menunda-nunda  pekerjaan.
18.  Hendaklah engkau menjauhkan diri dari judi dengan segala macamnya, apapun maksud dibaliknya. Hendaklah engkau juga menjauhi mata pencaharian yang haram, betapapun keuntungan besar yang ada di baliknya.
19.  Hendaklah engkau menjauhkan diri dari riba dalam setiap aktivitasmu dan suscikanlah ia sama sekali dari riba.
20.  Hendaklah engkau memelihara kekayaan umat Islam secara umum dengan mendorong berkembangnya pabrik-pabrik dan proyek-proyek ekonomi Islam.
21.  Hendaklah engkau memiliki kontribusi financial dalam dakwah, engkau tunaikan kewajiban zakatmu, dan jadikan sebagian dari hartamu itu untuk orang yang meminta dan orang yang kekurangan, betapapun kecil penghasilanmu.
22.  Hendaklah engkau menyimpan sebagian dari penghasilanmu untuk persediaan masa-masa sulit, betapapun sedikit, dan jangan sekali-kali menyusahkan dirimu untuk mengejar kesempurnaan.
23.  Hendaklah engkau bekerja – semampu yang engkau lakukan – untuk menghidupkan tradisi Islam dan mematikan tradisi asing dalam setiap aspek kehidupanmu, misalnya ucapan salam, bahasa, sejarah, pakaian, perabot rumah tangga, cara kerja dan istirahat, cara makan dan minum, cara datang dan pergi, serta gaya melampiaskan rasa suka dan duka. Hendaklah engkau menjaga sunnah dalam setiap aktifitas tersebut.
24.  Hendaklah engkau memboikot peradilan setempat atau seluruh peradilan yang tidak Islami, demikian juga gelanggang-gelanggang, penerbitan-penerbitan,  organisasi-organisasi, sekolah-sekolah dan segenap institusi yang tidak mendukung fikrahmu secara total.
25.  Hendaklah engkau senantiasa merasa diawasi oleh Allah, mengingat akhirat dan bersiap-siap untuk menjemputnya, mengambil jalan pintas untuk menuju ridha Allah dengan tekad yang kuat, serta mendekatkan diri kepada Allah SWT, puasa tiga hari – minimal – setiap bulan, mempeerbanyak dzikir (hati dan lisan), dan berusaha mengamalkan doa yang diajarkan pada setiap kesempatan.
26.  Hendaklah engkau bersuci dengan baik dan usahakan agar senantiasa dalam  keadaan berwudhu (suci) di sebagaian besar waktumu.
27.  Hendaklah engkau melakukan shalat dengan baik dan senantiasa tepat waktu dalam menunaikannya. Usahakan untuk senantiasa berjamaah di masjid jika itu mungkin dilakukan.
28.  Hendaklah engkau berpuasa Ramadhan dan berhaji dengan baik, jika engkau mampu melakukannya. Kerjakanlah sekarang juga jika engaku telah mampu.
29.  Hendaklah engkau senantaiasa menyertai dirimu dengan niat jihad dan cinta mati syahid. Bresiaplah untuk itu kapan saja kesempatan untuk itu tiba.
30.  Hendaklah engkau senantiasa memperbaharui shalat dan istighfarmu. Berhatihatilah terhadap dosa kecil, aspalagi dosa besar. Sediakanlah – untuk dirimu – beberapa saat sebelum tidur untuk menginstrospeksi diri terhadap apa-apa  yaNg telah engkau lakukan, yang baik maupun yang buruk. Perhatikan waktumu, karena waktu adalah kehidupan itu sendiri. Janganlah engkau pergunakan ia – sedikit pun – tanpa guna, dan janganlah engkau ceroboh terhadap hal-hal yang subhat, agar tidak jatuh ke dalam kubangan yang haram.
31.  Hendaklah engkau berjuang meningkatkan kemampuanmu dengan sungguhsungguh, agar engkau dapat menerima tongkat kepemimipinan. Hendaklah engkau menundukkan pandanganmu, menekan emosimu, dan memotong habis selera-selera rendah dari jiwamu. Bawalah ia hanya untuk menggapai yang halal dan baik, serta hijabilah ia dari haram dalam keadaan bagaimanapun.
32.  Hendaklah engkau menjauh dari khamer dan seluruh makanan atau minuman yang memabukkan sejauh-jauhnnya.
33.  Hendaklah engkau menjauh dari pergaulan dengan orang jahat dan persahabatan dengan orang yang rusak, serta jauhilah tempat-tempat maksiat.
34.  Hendaklah engkau perangi tempat-tempat iseng, jangan sekali-kali mendekatinya, serta jauhilah gaya hidup mewah dan bersantai-santai.
35.  Hendaklah engkau mengetahui anggota katibahmu satu persatu dengan pengetahuan yang lengkap, dan kenalkanlah dirimu kepada mereka dengan selengkap-lengkapnya. Tunaikanlah hak-hak ukhuwah mereka dengan seutuhnya; hak kasih sayang, penghargaan, pertolongan dan itsar. Hendaklah engkau senantiasa hadir di majelis mereka, tidak absent kecuali karena udzur darurat, dan pegang teguhlah sikap itsar dalam pergaulanmu dengan mereka.
36.  Hendaklah engkau hindari hubungan dengan organisasi atau jamaah apapun, sekiranya hubungan itu tidak membawa maslahat bagi fikrahmu, terutama jika diperintahkan untuk itu.
37.  Hendaklah engkau menyebarkan dakwahmu di manapun dan memberi informasi kepada pemimpin tentang segala kondisi yang melingkupimu.
38.  Janganlah engkau berbuat sesuatu yang berdampak strategis kecuali dengan seizinnya.
39.  Hendaklah engkau senantiasa mejalin hubungan, baik ruhani maupun ‘amali, dengan Jamaah.

skripsweet

 ini bukti bahwa semester ini saya mengambil 2 mata kuliah saja TAPI bukan sembarang kuliah bobotnya melebihi 24 SKS bisa bikin kurus dan jarang tidur,heheee
semoga di semester ini bisa menempuh semuanya dengan lancar dan di beri kemudahan oleh Sang Pengatur skenario terbaik (Allah SWT)


Demi Allah kalau bukan karena 3 hal, mungkin saya tidak akan mau bertahan kuliah sampai akhir seperti ini, 3 hal inilah yang menjadi motivasi dan penguat saya, yaitu Karena ALLAH, karena ORANGTUA, dan karena IMPIAN besar saya.
 

bismillah saya harus buktikan kalau saya bisa seperti ini ----------------------->

amin

AL Masyuq

Tegar di Jalan Dakwah

Buku Tegar di Jalan Dakwah ini membahas empat hal besar yang masing-masing dijelaskan dalam bab tersendiri: problematika internal aktivis dakwah, problematika eksternal dakwah, daya tahan di medan dakwah, dan yang tegar di jalan dakwah. Meskipun judulnya problematika, bab 1 dan bab 2 juga mencantumkan solusi pada setiap problematika yang muncul. Solusi pada bab 1 lebih detail dan bersifat aplikatif karena menyangkut permasalahan internal kader, sementara solusi pada bab 2 lebih bersifat global terkait langkah apa yang perlu diambil oleh jamaah dakwah. Bab 3 berisi langkah-langkah sistematis “membangun” dan “menjaga” daya tahan di medan dakwah. Sedangkan bab 4 banyak berisi contoh-contoh dai atau jamaah dakwah yang tegar menghadapi beragam mihnah.

Problematika Internal Aktivis Dakwah

Pembahasan problematika internal lebih didahulukan dari pada pembahasan problematika eksternal karena problem terberat bagi semua jamaah dakwah adalah kendala internal. Ketika problematika internal sudah diselesaikan/dikelola dengan baik, maka amanah dakwah lebih mudah ditunaikan dan problematika eksternal lebih mudah diselesaikan.

Problematika internal yang sering dijumpai dalam jamaah dakwah adalah gejolak kejiwaan, ketidakseimbangan aktivitas, latar belakang dan masa lalu, penyesuaian diri, dan friksi internal.

Gejolak kejiwaan sebenarnya merupakan persoalan yang dimiliki oleh semua manusia biasa. Dan yang perlu disadari adalah para aktivis dakwah juga manusia biasa. Gejolak ini tidak bisa dimatikan sama sekali, tetapi perlu dikelola dengan baik agar tidak merugikan dakwah dan aktivis dakwah.

Di antara gejolak kejiwaan itu adalah: Pertama, gejolak syahwat. Banyak orang yang terpeleset oleh gejolak ketertarikan pada lawan jenis ini. Bagi mereka yang belum menikah, gejolak ini biasanya lebih besar dan lebih berpeluang “menggoda.” Kedua, gejolak amarah. Seperti kisah Khalid saat menghadapi Jahdam dan pemuka bani Jazimah, gejolak amarah ini bisa berakibat fatal termasuk bagi citra dakwah, hubungan antar aktivis dakwah, dan terjadinya fitnah di antara kaum muslimin. Ketiga, gejolak heroisme. Semangat heroisme memang bagus dan sangat perlu, tetapi ketika sudah tidak proporsional ia akan mendatangkan sikap ekstrem yang berbahaya bagi kemaslahatan dakwah dan umat. Kasus pembunuhan terhadap Nuhaik yang dilakukan Usamah bin Zaid adalah contohnya. Keempat, gejolak kecemburuan. Seperti kecemburuan Anshar pada para mualaf yang mendapatkan hampir semua ghanimah perang Hunain, sikap ini bisa berefek pada melemahnya soliditas internal jamaah. Meskipun yang dicemburui oleh Anshar sebenarnya adalah perhatian Rasulullah dan bukan materi ghanimah-nya, gejolak ini segera diselesaikan Rasulullah karena jika dibiarkan bisa berdampak negatif.

Ketidakseimbangan aktivitas juga menimbulkan problematika tersendiri. Ketidakseimbangan antara aktivitas ruhaniyah dengan aktivitas lapangan, ketidakseimbangan antara dakwah di dalam dengan di luar rumah tangga, ketidakseimbangan antara aktivitas pribadi dengan organisasi, ketidakseimbangan antara amal tarbawi dengan amal siyasi, ketidakseimbangan antara perhatian terhadap aspek kualitas dengan kuantitas SDM; semuanya bisa berakibat negatif. Tawazun atau keseimbangan yang merupakan asas kehidupan, juga harus dipraktekkan dalam kehidupan berjamaah dan oleh semua aktivis dakwah.

Latar belakang dan masa lalu aktivis yang buruk bisa pula menjadi problematika internal dakwah jika tidak dilakukan langkah-langkah solutif. Latar belakang keagamaan keluarga, misalnya. Ia bisa berbentuk lemahnya tsaqafah Islam, tekanan keluarga yang menentang aktivitas dakwah, dan kerancuan dalam orientasi kehidupan. Sedangkan masa lalu yang “jahiliyah” bisa membawa dampak yang kurang menguntungkan bagi kredibilitas sang aktivis dakwah. Solusi atas problem ini terangkum dalam kata “mujahadah.” Bagaimana seorang aktivis melakukan muhasabah, menyadari kelemahannya dan melakukan perbaikan diri. Masa lalu memang tidak bisa diubah, tetapi pengaruhnya bisa dikendalikan.

Problematika internal yang keempat adalah penyesuaian diri. Yakni penyesuaian diri terhadap karakteristik pendekatan dan sikap dakwah yang melekat pada masing-masing marhalah dan orbit dakwah. Sebagaimana corak dakwah yang berbeda antara fase Makkiyah dan Madaniyah, bahkan masa sirriyah dan jahriyah pada fase Makkah yang juga berbeda, dakwah saat ini juga mengalami hal yang sama; ada tahap-tahapnya. Antara mihwar tanzhimi yang berkonsentrasi pada konsolidasi internal dan mihwar muassasi yang konsen pada perjuangan politik membuat beberapa kader dakwah tidak mampu menyesuaikan diri. Hambatannya bisa karena sifat “kelambanan” kemanusiaan, kecenderungan jiwa, keterbatasan dan perbedaan tsaqafah, sampai keterbatasan kapasitas. Untuk mengatasi problem ini dibutuhkan peran kelembagaan dakwah. Jamaah dakwah perlu melakukan persiapan perubahan fase dakwah, mensosialisasikan cara pandang yang disepakati tentang batas-batas pengembangan dakwah sehingga jelas mana yang termasuk pengembangan (tathwir) dan mana yang termasuk penyimpangan (inhiraf). Jamaah dakwah juga harus mendefinisikan mana yang asholah dan tsawabit, serta mana yang mutaghayyirat.

Problem internal kelima adalah friksi internal. Friksi ini bisa timbul dari lingkungan yang kecil seperti intern sebuah lembaga dakwah, atau antar lembaga, atau antar personal pendukung dakwah. Banyak gerakan dakwah yang harus tutup usia dan kini tinggal nama karena problematika ini. Friksi dalam sejarah dakwah memberi beberapa pelajaran penting bagi kita: bahwa friksi merupakan indikasi kelemahan proses tarbiyah, friksi menandakan adanya kelemahan dalam penjagaan diri para aktivis dakwah, restrukturiasi dakwah tepat dilakukan terhadap orang-orang yang telah memahami karakter dakwah itu sendiri, friksi juga bukti keberadaan ego manusia, penumbuhan al-wa’yul islami (kesadaran berislam) dan al-wa’yu ad-da’awi (kesadaran dakwah) lebih utama dibandingkan sekadar meletupkan hamasah (semangat) bergerak, dan sangat mungkin friksi timbul karena hadirnya pihak ketiga yang sengaja “memecah” jamaah.


Problematika Eksternal Dakwah

Problematika eksternal dakwah yang bisa menjadi bahaya besar bagi kebaikan bangsa dan masyarakat Indonesia, khususnya umat Islam meliputi problematika spiritual dan kultural, problematika moral, dan problematika sistemik.

Di antara problematika dakwah di Indonesia yang menyangkut aspek spiritual dan kultural adalah: berhala-berhala modern baik berupa teknologi yang dijadikan rujukan kebenaran, sains yang diabsolutkan, materi yang ditaati, maupun kekuasaan yang dipuja-puja; syirik, khurafat dan tahayul yang masih merebak di masyarakat; globalisasi dan dialektika kultural; serta tradisi baik yang sudah tergerus dan tergantikan dengan budaya negatif efek perkembangan peradaban.

Problematika moral di antaranya adalah minuman keras dan penyalahgunaan obat-obatan, penyelewengan seksual, perjudian dan penipuan, serta tindakan brutal dan kekerasan.

Sedangkan yang dimaksudkan dengan problematika sistemik adalah korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN), kemiskinan, kebodohan, dan ancaman disintegrasi bangsa.

Daya Tahan di Medan Dakwah

Dakwah yang merupakan jalan panjang dan lintas generasi niscaya memerlukan daya tahan yang permanen. Bagi, individu kader dakwah daya tahan ini jug harus dimiliki agar tetap istiqamah sampai mengakhiri sejarah kehidupannya dengan husnul khatimah. Untuk itu, paling tidak ada lima faktor yang perlu dimiliki para aktivis dakwah untuk merealisir daya tahan di medan dakwah: menguatkan dan membersihkan motivasi, menggapai derajat iman, menggandakan kesabaran, kekuatan ukhuwah, dan dukungan soliditas struktur.

Untuk menguatkan dan membersihkan motivasi kita perlu selalu memahami makna ikhlas dan berupaya mencapainya dengan jalan: senantiasa memperbaharui niat, berusaha keras menunaikan kewajiban, berusaha keras mewujudkan kecintaan kepada Allah, merasakan pengawasan Allah, dan hati-hati dalam beramal.

Untuk mencapai derajat iman kita perlu : memiliki orientasi rabbani, yakni menjadikan seluruh aktivitas selalu berorientasi kepada Allah, dan sebaliknya, berhati-hati terhadap orientasi duniawi. Jika kita mampu mencapai derajat iman ini, maka Allah menjanjikan kemenangan atas musuh, jaminan bahwa orang-orang kafir takkan menguasai, mendapatkan izzah, mendapatkan kehidupan dan rezeki yang baik, menjadi khalifah di muka bumi, serta mendapatkan surga di akhirat nanti.

Untuk bisa menggandakan kesabaran kita perlu memberikan dorongan jiwa untuk mengejar dengan sungguh-sungguh faedah-faedah yang ditimbulkan oleh kesabaran, dan betapa besar buahnya bagi agama dan keduniaan kita serta melawan pengaruh hawa nafsu. Jika kesabaran telah kita miliki maka kita akan mendapatkan hikmahnya yang luar biasa: dijadikan pemimpin, pahala yang besar, kebersamaan Allah, dan mendapatkan berbagai macam kebaikan karena sabar.

Untuk membangun ukhuwah kita perlu memotivasi diri dengan keteladanan ukhuwah di zaman kenabian lalu memperbaiki hubungan sesama aktivis dakwah berlandaskan cinta dan kasih sayang. Kita juga harus meminimalisir penghambat-penghambat ukhuwah. Jika kekuatan ukhuwah ini terbangun kokoh, maka daya tahan kita sebagai aktivis dakwah maupun daya tahan jamaah di medan dakwah akan semakin kokoh.

Sedangkan upaya membangun soliditas struktur paling tidak meliputi konsolidasi manajerial dan konsolidasi operasional. Konsolidasi manajerial dilakukan dengan penataan manajemen yang bagus dan profesional dalam setiap jalur dan lini. Selain mengambil prinsip-prinsip dari Al-Qur’an dan Hadits, prinsip manajemen modern juga bisa diterapkan. Konsolidasi operasional dimaksudkan untuk mensinkronkan berbagai kegiatan dalam skala gerakan, sekaligus senantiasa mengarahkan gerak dakwah kepada tujuan yang ditetapkan. Selain itu, untuk membangun soliditas struktur perlu menghindari hal-hal yang bisa merusaknya yaitu munculnya sekat komunikasi dan lemahnya imunitas struktural (mana’ah tanzhimiyah).

Yang Tegar di Jalan Dakwah

Jalan dakwah ini pasti dipenuhi dengan beragam kesulitan, hambatan, rintangan, tribulasi. Para aktifisnya akan berhadapan dengan beragam mihnah, sebagaimana para dai generasi sebelumnya sejak Rasulullah dan para sahabatnya, tabi’in, tabiit tabi’in, dan seterusnya.

Di antara mihnah itu ada yang berupa ejekan, gelombang fitnah, teror fisik, manisnya rayuan, tekanan keluarga, keterbatasan ekonomi, kemapanan, sampai kekuasaan. Kader dakwah harus tegar dalam menghadapi semua mihnah itu.

Agar tegar dalam menghadapi ejekan, sadarilah bahwa ejekan kepada Rasulullah jauh lebih hebat; maka biarkan saja semua orang mengejek, tidak perlu diladeni. Agar tegar dalam menghadapi fitnah, tetaplah bekerja dan beramal maka umat akan tahu siapa yang benar dan siapa yang tukang fitnah. Agar tegar dalam menghadapi teror fisik, tawakallah kepada Allah dan berdoalah senantiasa, di samping persiapan lain yang juga perlu dilakukan oleh struktur dakwah. Agar tegar dalam menghadapi manisnya rayuan, jagalah keikhlasan dan senantiasa memperbarui niat, waspada dan tetap bersama jamaah. Agar tegar dalam menghadapi tekanan keluarga, ketegasan harus diutamakan . Iman tidak bisa ditukar dengan keluarga, jika memang itu pilihannya. Agar tegar dalam kondisi kekurangan/keterbatasan ekonomi, bersabar adalah kuncinya. Kekuatan ukhuwah sesama aktivis dakwah juga berperan penting untuk menjaga kita tetap tegar. Agar tegar dalam kemapanan harus memiliki paradigma semakin banyak kekayaan, semakin banyak kontribusi bagi dakwah. Maka yang diteladani adalah Utsman bin Affan dan Abdurrahman bin Auf. Agar tegar di puncak kekuasaan, kelurusan orientasi perjuangan, ketaatan pada manhaj dakwah Rasulullah dan keyakinan akan janji-janji-Nya. Dan pada semua mihnah, kedekatan dengan Allah dan tawakal kepada-Nya merupakan kunci utama agar tegar di jalan dakwah!

ini Rindu..

Bismillah..
Langit bertabur bintang dimalam ini menjadi saksi atas kerinduanku..
di ufuk timur ada harapan yang menunggu..
hari ini kerinduan mulai muncul kepermukaan, masuk kerelung hati terdalam..
ini rindu yang tak biasa..
ini hanya ada  rasa yang tersisa..
karena aku hanya bisa mengekspresikan dengan sebuah air mata,
air mata kerinduan dan pengharapan..
bibir, hati, dan tangan ini tak pernah henti-hentinya berdoa, memohon kekuatan..
Demi Allah, kalau bukan karena Sang Pemilik Hati ini mungkin aku tidak akan bisa bertahan sampai hari ini..



ya Muhaimin

AL - Masyuq

menurut anda apakah blog ini bermanfaat?

Blog Writing Competition 2015

Blog Writing Competition 2015

Blog Writing Competition 2015
Kompetisi Blog Summarecon

Pojok Pulsa

Lomba Blog Pojok Pulsa 2015

Smartfren 4G LTE Advanced

Search

"Liawati Anakumi"

Foto saya
Depok, Jawa Barat, Indonesia
seorang anak yang dibesarkan oleh orangtua yang luar biasa, memiliki cita-cita menjadi sholehah, berusaha menjadi diriku dengan segala kekuranganku dan menjadi diriku dengan segala kelebihanku, pembelajar yang terus mau belajar.. sanguinis dan plegmatis personal.. bagiku sastra adalah bagian dari kehidupan, dengan satu aksara aku bisa menjadi lebih memaknai dunia.. Teacher senior high

My Life

Bukan manusia yang sempurna, tapi berusaha menjadi yang terbaik diantara yang terbaik..

Sangat ingin menggeluti profesi dibidang pendidikan menjadi seorang guru dan konselor yang bermanfaat untuk orang lain dan menjadi pendengar yang baik..

Sangat ingin menggeluti profesi dibidang sastra menulis dan membaca, karena dengan menulis dan membaca dapat merubah dan menaklukan dunia dan isinya..

Memiliki impian yang mustahil terwujud menjadi seorang wartawan (hihiii)..


Special Word

"Ketika Cinta belum dipertemukan biarkanlah cinta berekspresi menjadi sebuah keshalehan"

"maka Nikmat Tuhan yang manakah yang dapat aku dustakan?"

"semua akan indah pada waktuNya"

ya Muhaimin

AL Masyuq


liawatianakumi. Diberdayakan oleh Blogger.